Barnasari, Intan Oktavia (2026) KONSTRUKSI GHIBAH DIGITAL DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS CYBERPRAGMATICS DIGITAL DAN OPINI PUBLIK PENGGUNA TIKTOK. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 4 (3). pp. 425-441. ISSN 2985-9204
|
Text
INTAN OKTAVIA BARNASARI (JURNAL SKRIPSI 2026) REPOSITORY.pdf Download (3MB) |
Abstract
Abstract. In the digital era, this study analyzes the shift of “ghibah” from the private sphere to mass communication on
TikTok, focusing on the conflict between the household of Daehoon and Julia Prastini (Jule). Employing Francisco Yus’s
cyberpragmatics framework, a qualitative analysis of 297 videos from five key accounts reveals that public perception is shaped by three mechanisms: first, a digital context that fosters highly fluid virtual communication norms; second,
inferential communication that drives speculative conclusions; and third, recontextualization, which transforms the initial issue into retold narratives through commentary, humor, and collective interpretation. The findings indicate a
dominance of anger (41.8%) and a lack of support for Jule amplified by the FYP algorithm causing “digital gossip” to
evolve into a many-to-many communication cycle. This study underscores TikTok’s pivotal role in intensifying collective
emotions and shaping public opinion, while highlighting the urgent need for digital literacy to enable the public to
navigate online framing and provocation more discerningly.
Keywords: Cyberpragmatics; Digital Gossip; Public Opinion; Tiktok Social Media.
Abstrak. Di era digital penelitian ini menganalisis pergeseran “ghibah” dari ranah pribadi menjadi komunikasi massa di
TikTok dengan fokus pada kasus konflik antara rumah tangga Na Daehoon dan Julia Prastini (Jule). Dengan menggunakan kerangka cyberpragmatics dari Francisco Yus, analisis kualitatif terhadap 297 video dari lima akun utama mengungkapkan bahwa pandangan publik terbentuk melalui tiga mekanisme: pertama, konteks digital yang menciptakan
norma komunikasi virtual yang sangat cair; kedua, komunikasi inferensial yang mendorong kesimpulan spekulatif, dan
ketiga, rekontekstualisasi yang mengubah isu awal menjadi narasi ulang dalam bentuk komentar, humor, maupun
interpretasi kolektif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dominasi emosi marah (41,8%) dan
ketidakadaan dukungan untuk Jule, yang diperkuat oleh algoritma FYP, sehingga “ghibah digital” berkembang menjadi
siklus komunikasi many-to-many. Penelitian ini menegaskan bahwa TikTok memiliki peran penting dalam memperkuat
emosi kolektif serta membangun opini publik, sekaligus menunjukkan urgensi literasi digital agar masyarakat lebih
cerdas dalam menghadapi framing dan provokasi di dunia maya.
Kata kunci: Cyberpragmatics; Ghibah Digital; Media Sosial Tiktok; Opini Publik.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Contributors/Dosen Pembimbing,NIDN Dosen bisa diakses di LINK https://bit.ly/NIDNdosenunismabekasi: | Contribution Contributors / Dosen Pembimbing NIDN UNSPECIFIED Saepudin, Saepudin 0412058306 |
| Keywords / Kata Kunci: | Keywords: Cyberpragmatics; Digital Gossip; Public Opinion; Tiktok Social Media. Kata kunci: Cyberpragmatics; Ghibah Digital; Media Sosial Tiktok; Opini Publik. |
| Subjects: | Ilmu Komunikasi |
| Faculty: | Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa > Ilmu Komunikasi S1 |
| Depositing User: | Ms. Intan Oktavia Barnasari |
| Date Deposited: | 25 Sep 2026 02:06 |
| Last Modified: | 25 Sep 2026 02:06 |
| URI: | http://repository.umindonesia.ac.id/id/eprint/10830 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
